Di lereng berbatu Provinsi Kerman, sekitar 300 orang masih tidur di rumah yang dipahat masuk ke dalam bukit — bukan sebagai pertunjukan wisata, tetapi sebagai rumah sehari-hari.
Mengenal Lanskap Budaya Maymand
Maymand adalah desa kecil di distrik Shahr-e Babak, Provinsi Kerman, Iran tengah-selatan. Yang membuatnya masuk daftar Situs Warisan Dunia UNESCO pada 2015 bukan hanya arsitekturnya, tetapi keseluruhan lanskap budayanya: permukiman pahatan batu (kicheh), terasering pertanian gandum dan barley, kandang ternak, jalur penggembalaan, serta pola hidup agro-pastoral yang masih berjalan.
Wilayah ini semi-arid, dengan ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Penduduknya berbahasa Maymandi, sebuah dialek yang berbeda dari bahasa Persia standar dan menyimpan kosakata tua. Maymand bukan situs arkeologi yang ditinggalkan; ia desa hidup yang menghadapi persoalan nyata soal air, pekerjaan, dan generasi muda yang merantau ke kota.
Apa yang Membuat Lanskap Budaya Maymand Spesial

© Beyza Nur Arı
Yang istimewa di sini adalah kesinambungannya. Banyak desa batu di dunia berubah menjadi museum terbuka, tetapi Maymand masih dipakai sesuai fungsinya: kicheh dipakai sebagai rumah, gudang, dan kandang, dan sebagian keluarga masih berpindah musiman antara dataran rendah dan padang gembala tinggi.
Adaptasi terhadap lingkungan kering juga terlihat pada detail kecil — bukan pada monumen besar. Ada kicheh berlapis beberapa tingkat, ventilasi alami untuk mengatur suhu, dan pembagian ruang yang memisahkan area hewan dari area manusia. Semua ini terbentuk dari keterbatasan, bukan dari ambisi arsitektural.
Penting untuk tidak membayangkan Maymand sebagai "Cappadocia versi Iran". Konteks sejarah, bahan batuan, pola hunian, dan struktur sosialnya berbeda. Maymand adalah permukiman agro-pastoral, bukan kota bawah tanah dengan gereja pahatan.
Kehidupan Lokal dan Budaya Setempat
Sebagian besar keluarga di Maymand hidup dari ternak kambing dan domba, ditambah kebun kecil berisi gandum, barley, almond, walnut, dan delima. Pada musim panas, sebagian warga membawa ternak ke padang gembala yang lebih tinggi dan kembali saat cuaca mulai dingin — pola yang sudah berjalan lama dan menentukan ritme desa.
Perempuan Maymand menenun shal, syal wol tebal bermotif yang dulu dipakai sebagai pelapis tubuh di musim dingin, dan membuat namad (felt) dengan tangan. Di beberapa rumah, kamu bisa melihat alat tenun kayu sederhana yang masih dipakai, bukan dipajang. Ada juga museum etnografi kecil di desa yang menyimpan peralatan pertanian dan perkakas rumah tangga lama.
Etika berkunjung di sini bukan formalitas. Warga tinggal di dalam kicheh yang jadi objek foto; mengetuk, meminta izin, dan tidak memotret perempuan tanpa persetujuan adalah hal dasar. Jangan masuk ke ruangan yang terbuka tanpa dipersilakan, dan jangan memberi uang atau permen ke anak-anak secara spontan.
Cara Menuju Lanskap Budaya Maymand
Tidak ada transportasi umum langsung ke desa. Rute paling realistis adalah lewat Kerman atau Shahr-e Babak, lalu melanjutkan dengan mobil sewaan atau tur. Jalan menuju desa sudah beraspal sebagian, tetapi ruas terakhir sempit dan berkelok.
Referensi tambahan: baca inspirasi tambahan
| Opsi | Waktu Tempuh | Biaya | Cocok untuk |
|---|---|---|---|
| Mobil sewaan dari Kerman via Shahr-e Babak | 4–5 jam sekali jalan | Sewa mobil + BBM sekitar 3–5 juta IRR per hari | Rombongan kecil, traveler yang ingin fleksibel |
| Tur terorganisasi dari Kerman | 5–6 jam termasuk berhenti | 4–8 juta IRR per orang, biasanya termasuk pemandu | Solo traveler, yang tidak mau mengurus izin dan rute |
| Taksi antarkota Kerman–Shahr-e Babak, lanjut mobil lokal | 2 jam + sekitar 1,5 jam | 1,5–3 juta IRR total | Backpacker dengan waktu lebih longgar |
| Rute gabungan dari Yazd via Shahr-e Babak | 5–6 jam | Sewa mobil sekitar 4–6 juta IRR | Yang menyusun rute Yazd–Kerman dalam satu jalur |
Angka di atas bergerak cepat mengikuti inflasi dan nilai tukar; konfirmasi ulang saat memesan. Bawa uang tunai secukupnya karena tidak ada ATM di desa.
Apa yang Bisa Kamu Lakukan di Sini

© Mohammad Karbasi
Menelusuri lorong kicheh. Jalur batu antar rumah sempit dan bertingkat. Tidak ada peta resmi; berjalan pelan dan perhatikan batas antara ruang publik dan halaman pribadi.
Museum etnografi Maymand. Koleksi kecil perkakas pertanian, pakaian, dan alat tenun. Berguna untuk memahami konteks sebelum berjalan keliling desa.
Referensi tambahan: lihat artikel perjalanan lain
Melihat proses tenun shal dan pembuatan namad. Beberapa rumah menerima tamu untuk melihat langsung. Belilah produknya jika tertarik — ini salah satu bentuk dukungan paling langsung bagi warga.
Berjalan ke terasering dan kebun. Jalur di sekitar desa melewati pohon almond, walnut, dan delima. Di musim semi, almond berbunga menjadi alasan tersendiri untuk datang.
Menginap di homestay warga. Pengalaman paling jujur untuk merasakan suhu malam, suara ternak, dan ritme desa. Fasilitas sederhana: kasur di lantai, kamar mandi bersama.
Kuliner yang Wajib Dicoba
Nan-e tanouri. Roti pipih yang ditempel di dinding tungku tanah liat. Dimakan hangat dengan keju kambing atau madu lokal; teksturnya kasar dan sedikit berasap.
Baca juga: Kota Bersejarah Yazd: Kota Gurun UNESCO yang Tetap Berfungsi
Ash-e jo. Sup barley kental dengan kacang-kacangan dan sayuran, sering jadi menu sarapan berat di rumah warga. Biasanya disajikan dengan roti kering dan sesendok kashk di atasnya.
Kashk dan dugh. Produk susu fermentasi khas wilayah Kerman. Kashk dipakai sebagai pengental dan penambah rasa asin; dugh (minuman yogurt cair) disajikan dingin saat siang panas.
Qaraqorut. Bola-bola whey kering berasa asin yang biasa dijadikan camilan atau direndam dalam air sebelum dimasak. Rasanya kuat dan tidak langsung cocok untuk semua orang.
Baca juga: Taputapuātea: Menyelami Pusat Spiritual dan Peradaban Polinesia di Raiatea
Buah kering dan almond lokal. Dijual di rumah-rumah warga. Kualitasnya bagus karena dikeringkan sendiri, tetapi tanyakan harga dulu agar tidak canggung.
Waktu Terbaik untuk Berkunjung
Maret–Mei. Musim paling nyaman. Suhu siang sekitar 15–25°C, almond berbunga, dan jalur desa tidak terlalu panas untuk didaki.
Juni–Agustus. Panas dan kering, suhu siang bisa melewati 35°C. Beberapa warga justru sedang berada di padang gembala tinggi, sehingga desa terasa lebih sepi.
September–November. Pilihan terbaik kedua. Udara mulai dingin, panen berlangsung, dan cahaya sore sangat bagus untuk foto lanskap.
Baca juga: Perbukitan, Rumah, dan Ruang Bawah Tanah Champagne: Menyusuri Lanskap UNESCO di Reims dan Épernay
Desember–Februari. Malam bisa mendekati atau di bawah nol derajat. Desa indah saat bersalju tipis, tetapi akses jalan bisa terganggu dan homestay lebih terbatas.
Durasi dan Estimasi Biaya

© Emir Bozkurt
Durasi ideal 1–2 hari: satu hari untuk perjalanan dan berkeliling desa, satu malam menginap untuk merasakan suasana. Perjalanan pulang-pergi dari Kerman memakan hampir satu hari penuh, jadi jangan memaksakan kunjungan setengah hari.
- Homestay warga: sekitar 1,5–3 juta IRR per malam per orang, termasuk sarapan sederhana.
- Makan di rumah warga atau warung desa: 300–700 ribu IRR per kali makan.
- Pemandu lokal: 500 ribu–1 juta IRR untuk setengah hari.
- Tiket masuk kawasan: 100–200 ribu IRR, bisa berubah.
- Total di luar transport: sekitar 3–6 juta IRR per hari.
Angka ini bergerak cepat; anggap sebagai kisaran, bukan patokan tetap. Bawa tunai dalam rial, dan siapkan cadangan karena tidak ada mesin ATM.
Tempat Lain di Sekitarnya
Shahr-e Babak — kota kecil terdekat dengan pasar tradisional dan akses ke tambang tembaga Sarcheshmeh. Berguna sebagai titik istirahat dan tempat mencari mobil sewaan.
Arg-e Rayen — benteng tanah liat dari periode Sassanid, sekitar 2–3 jam dari Maymand. Strukturnya masih utuh dan jauh lebih sepi dibanding Bam.
Kerman — kota besar terdekat dengan Masjid Shah Nematollah Vali dan Bazar Ganjali Khan. Basis paling praktis untuk mengatur tur dan transportasi ke Maymand.
Apakah Lanskap Budaya Maymand Worth It?
Ya, jika kamu datang untuk lanskap hidup dan siap menerima fasilitas seadanya — bukan untuk kenyamanan resort atau foto spektakuler dalam sekali kunjungan. Perjalanannya panjang dan mahal relatif terhadap waktu yang dihabiskan di desa. Datanglah dengan ekspektasi rendah soal infrastruktur, dan hormati bahwa ini rumah orang, bukan taman wisata.