Menjelajahi pesona alam Fanjingshan, situs Warisan Dunia UNESCO di jantung provinsi Guizhou, China, menawarkan pengalaman yang berbeda dari destinasi populer lainnya.
Mengenal Fanjingshan
Fanjingshan, yang secara harfiah berarti 'gunung kesempurnaan dan ketenangan', adalah sebuah kawasan pegunungan yang terletak di Provinsi Guizhou, Tiongkok. Dikenal sebagai salah satu dari lima gunung suci Buddha di Tiongkok, Fanjingshan kini lebih dikenal secara global berkat pengukuhannya sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2018. Pengakuan ini lebih menekankan pada nilai alam dan keanekaragaman hayatinya yang luar biasa, termasuk statusnya sebagai habitat bagi spesies endemik seperti monyet hidung pesek Guizhou (Rhinopithecus roxellanae). Lanskapnya didominasi oleh formasi batu unik yang menjulang dramatis di tengah lautan awan, menciptakan pemandangan yang memukau dan agung.
Apa yang Membuat Fanjingshan Spesial

© jason hu
Keistimewaan Fanjingshan terletak pada kombinasi unik antara keindahan geologis yang dramatis dan kekayaan biodiversitas yang tak tertandingi. Puncak-puncaknya yang terbentuk dari batu kuarsit, seperti Puncak Buddha (Buddha Peak) dan Puncak Lingao (Lingao Peak), menjulang tinggi seolah menembus langit, sering diselimuti kabut tebal yang menambah aura mistis dan keagungan. Kontras dengan puncak-puncak batu ini adalah vegetasi subur yang menutupi lerengnya, menciptakan ekosistem yang kaya. Fanjingshan bukan sekadar gunung biasa; ia adalah bukti nyata evolusi geologis dan biologis selama jutaan tahun, menawarkan pemandangan yang berbeda dari pegunungan karst di tempat lain di Tiongkok, seperti Zhangjiajie yang lebih terkenal.
Kehidupan Lokal dan Budaya Setempat
Meskipun Fanjingshan lebih dikenal sebagai situs alam UNESCO, ia tetap memiliki akar budaya yang kuat sebagai gunung suci Buddhis. Di sekitar kaki gunung dan desa-desa terdekat, Anda dapat merasakan denyut kehidupan masyarakat lokal yang sebagian besar adalah etnis minoritas Miao dan Tujia. Mereka memiliki tradisi yang kaya, termasuk pakaian adat berwarna-warni yang sering dikenakan saat perayaan, rumah-rumah kayu tradisional dengan arsitektur khas, serta ritual dan festival yang masih dijaga kelestariannya. Salah satu kuliner khas yang patut dicoba adalah Mao Doufu (tahu berbulu), hidangan tahu fermentasi yang memiliki aroma kuat namun rasa yang unik, serta berbagai hidangan berbasis nasi dan sayuran lokal yang diolah dengan bumbu khas daerah Guizhou.
Cara Menuju Fanjingshan
Perjalanan menuju Fanjingshan umumnya dimulai dengan mencapai kota terdekat, yaitu Tongren, yang memiliki bandara dan stasiun kereta api yang terhubung dengan kota-kota besar di Tiongkok.
Referensi tambahan: baca panduan lain
| Opsi | Waktu Tempuh | Biaya | Cocok untuk |
|---|---|---|---|
| Pesawat ke Tongren Fenghuang Airport (TEN) | Tergantung kota asal | Variatif (mulai ¥500) | Wisatawan yang ingin menghemat waktu |
| Kereta Cepat ke Tongren South Railway Station | Sekitar 4-10 jam dari kota besar | ¥200-¥600 | Wisatawan yang mencari keseimbangan waktu dan biaya |
| Antar-jemput dari Tongren ke Fanjingshan Scenic Area | Sekitar 1.5 - 2 jam | ¥30-¥50 | Semua pengunjung |
| Kereta Gantung ke Puncak | Sekitar 20 menit | ¥160 (pulang-pergi) | Semua pengunjung yang ingin akses cepat ke area atas |
Setelah tiba di area wisata Fanjingshan, pengunjung biasanya akan menggunakan bus antar-jemput untuk mencapai stasiun kereta gantung atau titik awal pendakian. Kereta gantung menjadi pilihan utama bagi banyak wisatawan untuk mencapai area puncak dengan cepat dan nyaman, meskipun antrean bisa panjang terutama saat musim ramai.
Apa yang Bisa Kamu Lakukan di Sini

© Leon Huang
Pendakian ke Puncak Buddha (Buddha Peak): Inilah ikon Fanjingshan. Pendakian terakhir menuju puncak mengharuskan Anda menaiki tangga batu yang curam, di mana terdapat paviliun kecil yang indah. Pemandangan dari sini, jika cuaca cerah, sungguh menakjubkan.
Menjelajahi Puncak Lingao (Lingao Peak): Puncak ini dihubungkan dengan Puncak Buddha melalui jembatan, menawarkan perspektif berbeda dari formasi batu yang serupa. Di sini juga terdapat kuil kecil yang menambah nuansa spiritual.
Berjalan di Jalur Kayu (Boardwalks): Sepanjang area puncak, terdapat jalur-jalur kayu yang memudahkan pengunjung untuk berpindah antar titik pandang dan menikmati lanskap tanpa merusak ekosistem rapuh.
Baca juga: Shirakawa-go: Menjelajahi Desa Warisan UNESCO dengan Rumah Gassho-zukuri yang Megah
Mengamati Keanekaragaman Hayati: Luangkan waktu untuk mengamati flora dan fauna unik di kawasan ini. Jika beruntung, Anda mungkin bisa melihat monyet hidung pesek Guizhou atau berbagai jenis burung endemic.
Baca juga: Panduan Lengkap Dataran Pasang Surut Getbol Korea: UNESCO Mudflats yang Menakjubkan
Mengunjungi Kuil Fanjingshan: Meskipun fokus utama adalah alam, Anda tetap dapat menemukan beberapa kuil kecil yang tersebar di area yang lebih rendah, menunjukkan sejarah Fanjingshan sebagai gunung suci.
Kuliner yang Wajib Dicoba
Guizhou Sour Fish Soup (Suan Cai Yu): Sup ikan asam khas Guizhou ini adalah hidangan yang menyegarkan dan kaya rasa. Ikan segar dimasak dengan fermentasi sayuran (acar), cabai, dan bumbu lainnya, menciptakan rasa asam pedas yang khas.
Mao Doufu (Tahu Berbulu): Bagi pencari tantangan kuliner, Mao Doufu wajib dicoba. Tahu ini difermentasi hingga permukaannya ditumbuhi lapisan seperti jamur halus, lalu digoreng. Aromanya kuat, namun rasanya gurih dan unik.
Laba Garlic: Salah satu hidangan pendamping yang sering disajikan. Bawang putih yang direndam dalam cuka dan gula, memberikan rasa manis asam yang tajam dan menyegarkan.
Hidangan Berbasis Jamur: Fanjingshan kaya akan berbagai jenis jamur liar. Cobalah berbagai tumisan jamur lokal yang dimasak dengan bumbu sederhana untuk menonjolkan rasa asli jamur.
Waktu Terbaik untuk Berkunjung
Waktu terbaik untuk mengunjungi Fanjingshan adalah antara bulan April hingga Oktober. Periode ini umumnya menawarkan cuaca yang lebih stabil dan suhu yang lebih bersahabat untuk aktivitas luar ruangan. Musim semi (April-Mei) dan musim gugur (September-Oktober) biasanya menawarkan pemandangan yang paling indah dengan vegetasi hijau subur atau warna-warni daun musim gugur, serta kabut yang seringkali menambah dramatisnya pemandangan. Hindari musim dingin (November-Maret) karena suhu yang sangat dingin, kemungkinan salju, dan penutupan beberapa fasilitas.
Referensi tambahan: referensi travel lainnya
Durasi dan Estimasi Biaya

© Lian Rodriguez
Untuk menjelajahi Fanjingshan secara menyeluruh, disarankan untuk mengalokasikan setidaknya 1 hingga 2 hari penuh. Ini memungkinkan Anda untuk menikmati pendakian, menikmati pemandangan dari berbagai sudut, dan mengantisipasi potensi penundaan akibat cuaca atau antrean. Estimasi biaya harian berkisar antara ¥350 hingga ¥900 per orang. Angka ini mencakup tiket masuk kawasan wisata (sekitar ¥160), biaya kereta gantung (sekitar ¥160 pulang-pergi), bus antar-jemput internal, akomodasi sederhana di sekitar area wisata atau di Tongren, serta biaya makan. Biaya transportasi dari dan ke Tongren belum termasuk dalam estimasi harian ini.
Tempat Lain di Sekitarnya
Tongren: Kota ini adalah gerbang utama menuju Fanjingshan. Tongren sendiri memiliki beberapa atraksi, termasuk kota tua dan museum etnis Tujia, yang bisa menjadi tempat singgah sebelum atau sesudah mendaki Fanjingshan.
Zhenyyuan Ancient Town: Kota tua bersejarah yang terletak beberapa jam perjalanan dari Tongren. Dikenal dengan arsitektur kuno yang terpelihara baik dan pemandangan sungai yang indah, Zhenyuan menawarkan nuansa Tiongkok tradisional yang berbeda.
Baca juga: Quanzhou
Huangguoshu Waterfall: Salah satu air terjun terbesar di Asia Timur, terletak di provinsi Guizhou. Meskipun cukup jauh dari Fanjingshan, jika Anda memiliki waktu lebih, air terjun megah ini bisa menjadi tambahan menarik dalam itinerary Anda.
Apakah Fanjingshan Worth It?
Ya, Fanjingshan sangat worth it bagi para pencinta alam dan petualang yang mencari keindahan geologis yang unik dan pengalaman mendaki yang memuaskan. Namun, perlu diingat bahwa cuaca di pegunungan bisa sangat tidak terduga, dan popularitasnya yang meningkat berarti antrean panjang dan kuota pengunjung bisa menjadi tantangan, terutama saat musim puncak.