Dari Phnom Penh menuju Siem Reap, banyak pelancong melaju begitu saja melewati Kampong Thom. Padahal, tak jauh dari jalan raya itu, Sambor Prei Kuk menyimpan warisan peradaban pra-Angkor yang jauh lebih tua dari Angkor Wat.
Mengenal Sambor Prei Kuk
Sambor Prei Kuk adalah situs arkeologi yang pernah menjadi pusat Kerajaan Chenla pada abad ke-7. Dari tahun 616 hingga 635, daerah ini dikenal sebagai Ishanapura, ibu kota yang dipimpin oleh Raja Isanavarman I. Situs ini terletak di Provinsi Kampong Thom, Kamboja, dan resmi masuk daftar Warisan Dunia UNESCO pada 2017.
Baca juga: Arslantepe Höyük: Gerbang Menuju Peradaban Awal di Malatya, Turki
Sebagian besar candi yang tersisa dibangun dari bata merah dengan teknik yang maju pada zamannya. Ada sekitar 106 struktur yang tersebar di area seluas 25 kilometer persegi, meski yang bisa dijelajahi umumnya terkonsentrasi di tiga kelompok utama. Walaupun kalah megah dari Angkor, nilai sejarahnya justru memberi pemahaman tentang masa sebelum Kekaisaran Khmer berkuasa.
Apa yang Membuat Sambor Prei Kuk Spesial

© Saran Pa
Kebanyakan orang datang ke Kamboja untuk melihat Angkor Wat, tetapi Sambor Prei Kuk menawarkan sudut pandang berbeda: ini adalah masa ketika arsitektur candi masih didominasi bata dan hutan tropis belum sepenuhnya ditaklukkan manusia. Nama "Sambor Prei Kuk" sendiri berarti "kota di dalam hutan", menggambarkan suasana alam yang masih menyelimuti bangunan-bangunan kuno.
Keistimewaannya bukan terletak pada kemegahan monumen, melainkan pada keragaman bentuk menara, ambang pintu berukir, dan prasasti yang menjadi bukti awal perkembangan bahasa Khmer. Beberapa candi memiliki relief yang dipengaruhi seni India, khususnya dari periode Gupta dan post-Gupta. Karena belum terlalu terkenal, pengunjung bisa menikmati situs ini hampir tanpa antrean, dengan hanya suara burung dan desir angin sebagai latar.
Kehidupan Lokal dan Budaya Setempat
Desa di sekitar Sambor Prei Kuk masih sangat tradisional. Mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani padi dan pekebun buah-buahan, seperti kelapa dan pisang. Banyak warga juga hidup dari hasil hutan, seperti getah karet dan bambu, yang kemudian dijual ke pasar Kampong Thom.
Referensi tambahan: lihat referensi perjalanan
Saat saya berkunjung, saya melihat para wanita paruh baya duduk di bawah pohon, menenun tikar dari pandan dan membuat anyaman bambu. Di beberapa candi, warga setempat memasang altar kecil berisi dupa dan bunga untuk pemujaan roh penjaga. Krama, kain kotak-kotak khas Kamboja, masih sering terlihat dikenakan sebagai ikat pinggang atau penutup kepala. Festival Pchum Ben, yang berlangsung sekitar September–Oktober, juga dirayakan di pagoda desa terdekat untuk menghormati leluhur.
Cara Menuju Sambor Prei Kuk
Bandara terdekat ada di Siem Reap atau Phnom Penh, tetapi tidak ada penerbangan langsung ke Kampong Thom. Semua perjalanan dilakukan melalui jalur darat, dan titik paling umum adalah dari kota Kampong Thom, yang berada di jalan nasional No. 6 antara Phnom Penh dan Siem Reap.
Dari Kampong Thom, situs ini berjarak sekitar 30 kilometer ke arah timur. Biasanya perjalanan menggunakan mobil/taksi sewa atau remorque (kereta motor) yang bisa disewa di dekat pasar kota.
| Opsi | Waktu Tempuh | Biaya | Cocok untuk |
|---|---|---|---|
| Mobil/taksi dari Kampong Thom | ±45 menit | $20–30 sekali jalan | Rombongan kecil atau yang ingin nyaman |
| Remorque (kereta motor) dari Kampong Thom | ±1 jam | $10–15 sekali jalan | Traveler hemat, pengalaman lokal |
| Bus dari Phnom Penh ke Kampong Thom + lanjut remorque/mobil | ±4–5 jam total | $7–12 (bus) + $10–25 (taksi lanjutan) | Mereka yang singgah dari jalur bus umum |
| Tur paket Phnom Penh–Siem Reap | ±1 hari penuh | $35–50 per orang termasuk makan | Yang ingin praktis dan punya pemandu |
Apa yang Bisa Kamu Lakukan di Sini

© Saran Pa
Jelajahi situs dengan berjalan kaki santai. Ada tiga kelompok utama yang perlu kamu kelilingi, masing-masing dengan karakter sendiri.
- Kelompok Utara (Prasat Sambor) — Kelompok terbesar dengan sekitar 24 candi, termasuk menara pusat yang dikelilingi lima menara kecil berbentuk wajah. Di sini kamu bisa melihat banyak ambang pintu batu berukir indah yang masih utuh.
- Kelompok Tengah (Prasat Tao) — Dinamai sebagai "Candi Singa", menara ini paling terkenal karena ukiran kepala singa di ambang pintunya. Candi utama berbentuk persegi dengan relief dewa dari tanah liat.
- Kelompok Selatan (Prasat Yeai Poan) — Area yang paling sepi dan berhutan, dengan banyak candi bata yang ditumbuhi akar pohon besar. Suasana di sini terasa mistis, terutama saat pagi hari saat kabut masih tipis.
Selain berkeliling candi, kamu juga bisa mengamati burung, menikmati piknik bawah pohon, atau mampir ke pusat informasi kecil di dekat pintu masuk.
Baca juga: Göbekli Tepe: Menyingkap Misteri Situs Neolitik Tertua di Dunia Dekat Şanlıurfa
Kuliner yang Wajib Dicoba
Meskipun tidak ada restoran besar di dalam situs, perjalanan ke Kampong Thom atau desa sekitar memberi banyak pilihan kuliner lokal yang autentik.
- Num Banh Chok — Mi beras segar dengan kari ikan yang hangat. Biasanya disantap sebagai sarapan di pagi hari, dengan taburan kacang panjang, ketimun, dan bunga pisang.
- Kralan — Ketan kukus dicampur santan, kacang hitam, dan sedikit gula, lalu dibakar dalam tabung bambu. Teksturnya kenyal dan sering dijual di pinggir jalan oleh ibu-ibu sambil menunggu pembeli.
- Samlor Korkor — Sup tradisional dengan campuran sayuran seperti terung, kacang panjang, dan daun wangi. Rasanya gurih dengan sedikit pahit khas terung liar, biasanya dimakan dengan nasi putih.
- Cha Houy Teuk — Puding santan beku yang disajikan dengan aneka topping seperti durian, kelapa muda, atau cincau. Cocok untuk melepas dahaga setelah berpanas-panasan di situs.
Waktu Terbaik untuk Berkunjung
Musim kemarau antara November dan Februari adalah window terbaik. Suhu udara sedikit lebih rendah, dan tanah di sekitar candi tidak becek, sehingga mudah berjalan di antara kelompok candi. Dari Maret hingga Mei udara terasa panas dan lembap, namun kamu bisa menikmati sepi karena situs jarang dikunjungi.
Musim hujan (Juni–Oktober) membuat hutan menjadi hijau dan rerumputan tumbuh subur, tetapi beberapa jalan tanah bisa berlumpur. Jika tetap ingin berkunjung, bawa sepatu anti air dan perhatikan akses menuju kelompok selatan yang paling sepi dan sulit dijangkau.
Durasi dan Estimasi Biaya

© Serg Alesenko
Pengalaman ideal adalah menghabiskan setengah hingga satu hari di Sambor Prei Kuk. Jika kamu datang dari Phnom Penh dan ingin lanjut ke Siem Reap, sisihkan sekitar 5–6 jam penuh untuk perjalanan dan eksplorasi.
Baca juga: Menjelajahi Medina Azahara: Reruntuhan Kota Istana Kekhalifahan Córdoba
Estimasi biaya hariannya mulai dari $25 untuk traveler hemat hingga $80 untuk yang ingin sewa mobil dan pemandu. Rincian perkiraan:
- Tiket masuk situs: $10 per orang.
- Transportasi dari Kampong Thom: $10–20 per orang untuk sewa mobil atau remorque (berbagi dengan teman).
- Makan dan minuman: $5–10 per orang.
- Pemandu lokal resmi (jika ingin): sekitar $15 untuk dua jam.
Biaya tersebut tidak termasuk akomodasi. Jika kamu memutuskan menginap di Kampong Thom, cari penginapan mulai $8 per malam untuk losmen sederhana.
Referensi tambahan: baca panduan lain
Tempat Lain di Sekitarnya
- Kampong Thom Town — Kota kecil yang tenang di tepi Sungai Stung Sen, dengan pasar pagi dan beberapa warung makan lokal. Tempat yang nyaman untuk beristirahat sebelum atau sesudah menjelajah situs.
- Phnom Santuk — Bukit setinggi 180 meter sekitar 18 km dari Kampong Thom, di puncaknya terdapat pagoda dan patung Buddha raksasa yang menghadap ke sawah. Pendakian melalui anak tangga kayu menyusuri hutan, dengan pemandangan indah di akhir.
- Rute menuju Siem Reap — Lanjutkan perjalanan sekitar 2 jam untuk tiba di kota pariwisata yang menjadi pintu masuk ke Angkor Wat. Ini adalah kombinasi menarik antara sejarah pra-Angkor dan puncak kejayaan Khmer.
Apakah Sambor Prei Kuk Worth It?
Ya, bagi pencinta sejarah dan pengalaman tenang, ini cukup worth it. Namun jangan datang dengan ekspektasi setara Angkor Wat, karena situs ini kecil, minim atraksi spektakuler, dan fasilitasnya terbatas. Bagi yang hanya ingin foto Instagram dan keramaian, tempat ini mungkin terasa membosankan.